19. Yesus, Misi Allah
Bepergian jauh untuk Allah ? Pergi, ikuti jejak Yesus !
Dalam Alkitab anda silakan membaca ~ Kejadian 11: 1 - 9; 1 Tesalonika 1:1 hingga 2: 16
Inilah ayat hafalan anda ~ Ibrani 10: 7 "Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan Kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku" Ibrani 10: 7
Mazmur 40: 8, 9 Lalu aku berkata : "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."
Sesudah itu bicarakan tentang hal ini ~ Coba saling berceritera dengan teman-teman anda tentang kebudayaan anda masing-masing; sambil dipikirkan bagaimana kaitannya dengan isi pelajaran nomor 2 di bawah "Apakah kebudayaan itu merupakan pembatas ataukah pembawa ?"
Sesuatu yang perlu dikerjakan sebelum pertemuan yang akan datang. ~ Jika anda sudah menjadi orang percaya untuk waktu yang cukup lama, mungkin anda telah lupa bagaimana rasanya berada di luar Keluarga Allah. Pergilah kunjungi beberapa bar, diskotik, pasar, peristiwa / event olah raga, perhatikan orang-orang yang ada di situ, tataplah wajah mereka, pelajari sesuatu dan coba catat dengan saksama berapa banyak percakapan yang telah berhasil anda lakukan di tempat-tempat itu.
Tugas tertulis untuk meraih Diploma ~ Lihat sejenak pada pelajaran nomor 3 di bawah tentang perlunya penyesuaian diri. Tulis 2 halaman essay yang menguraikan pendapat anda tentang ke lima judul pelajaran di bawah. Bagaimana cara anda untuk membangun komunikasi dengan orang asing yang baru pertama kali anda temui agar anda dapat dimengerti oleh mereka ?
Renungkan kata demi kata dalam ayat ini ~ Ibrani 10: 5 - 7
Pastikanlah bahwa anda mengajarkan pelajaran ini kepada orang-orang lain.
Berdoalah selalu dan persiapkanlah diri anda sebaik-baik -nya.
Waktu anda mengajar, tambahkanlah ayat-ayat Alkitab dan ceritera-ceritera yang anda
pilih sendiri sebagai ilustrasi supaya proses pengajaran menjadi menarik, semarak dan hidup
Suatu Kisah Nyata
Satu kelompok orang-orang Barat yang mempunyai Visi untuk Pelayanan Misi, pergi ke suatu tempat di pulau yang jauh tanpa diundang dan tanpa berkonsultasi lebih dahulu dengan Gereja Nasional setempat. Bahkan beberapa orang percaya setempat merasa curiga terhadap mereka dan tidak lama kemudian rombongan misionaris tersebut di-isolir / dikucilkan oleh persekutuan orang percaya setempat. Untuk beberapa tahun orang-orang Barat itu tetap mempergunakan bahasa asli mereka, kebudayaan mereka, makanan dan cara-cara kerja dan cara menyembah mereka. Bahkan pada hari inipun siapa saja yang datang ke suatu Kebaktian Gereja di manapun itu adanya, seringkali merasakan sesuatu yang asing baginya setelah beberapa waktu berada di tempat itu, sehingga bilamana dirasakan tidak ada perubahan sama sekali maka akhirnya orang tersebut akan meninggalkan tempat tersebut karena merasa tidak sesuai.Memang menyedihkan tetapi tidak mengherankan, dan akhirnya pekerjaan pelayanan misi mereka tidak ada pertumbuhannya dan tidak juga membawa hasil apapun.
1. Yesus, Misionaris Allah.
Ketika Anak Allah menanggapi Panggilan Bapa-Nya seperti dituliskan dalam Mazmur pasal 2 dan kemudian diputuskan untuk pergi ke bumi, Dia menyeberangi suatu lintas budaya yang paling besar perbedaannya. Dia meninggalkan kemurnian dan kesempurnaan di Rumah-Nya di Sorga untuk datang ke bumi yang dicekam oleh dosa, penyakit, ke-aku-an, setan-setan dan kemiskinan. Bagaimana Dia datang kemari ?
Dia datang ke antara orang-orang Yahudi sebagai bayi Yahudi laki-laki dengan orang tua Yahudi. Yesus memilih untuk dilahirkan seperti kebanyakan orang, miskin tidak kaya, tidak agamawi dan juga tidak punya kuasa. Dia tinggal dalam satu keluarga sederhana yang bekerja dan Dia mempelajari konteks budaya manusia di tempat itu. Seperti orang- orang lainnya, Dia tahu tentang panas, dingin, kelaparan dan kekejaman pasukan Romawi.
Ketika datang saat-Nya, Dia melayani sebagai seorang Yahudi kepada orang Yahudi lainnya dalam bahasa sehari-hari, menghormati kebudayaan dan adat-istiadat Yahudi. Dia begitu menyatu dengan orang-orang setempat sehingga ketika perajurit-perajurit Romawi datang untuk menangkap-Nya, mereka perlu diberitahu yang mana yang adalah Yesus. Yesus mengumpulkan dan melatih orang-orang biasa di tempat. Sesudah kenaikan-Nya Dia melimpahkan tugas pelatihan itu kepada mereka yang sudah terlatih, mempercayakan teman-teman-Nya ini untuk melanjutkan tugas-Nya.
Dapatkah anda melihat perbedaannya ?
Para misionaris Barat dalam kisah yang pertama di atas, memang benar, membawa Kasih Allah tetapi sayang bahwa mereka bersikap pasip, mereka mengharapkan orang-orang setempat untuk datang dan masuk dalam kebudayaan mereka. Berbeda sekali ketika Yesus datang membawa Kasih Allah, yang sama, ke dunia, Dia dengan sepenuh hati-Nya masuk ke dalam budaya dan adat-istiadat manusia dengan tujuan untuk dapat memenangkan kita untuk kerajaan sorga.
2. Apakah kebudayaan itu pembatas atau pembawa ?
Apakah itu kebudayaan ? Kebudayaan itu adalah suatu kesatuan antara unsur-unsur gaya hidup, bahasa, kebiasaan, adat-istiadat dan organisasi sosial yang memberikan identitas dan ciri-ciri tertentu kepada sekelompok orang.
Kebudayaan berbicara tentang tingkah laku, bahasa tubuh, saling-hubungan dan saling menyapa. Kebudayaan itu adalah tentang bagaimana orang-orang berbicara, makan, berpakaian, bekerja, menyanyi, bermain dan berniaga.
Anda dapat melihat ciri-ciri suatu kebudayaan dalam seni arsitektur, gedung tempat ibadah dan sistem kerja dalam pemerintahan, tata-hukum dan pendidikan sekolah. Anda dapat melihat ciri-ciri suatu kebudayaan dalam hal ada atau tidak-ada-nya sikap saling menghormati dan juga dalam cara bersikap atau memandang terhadap hal-hal pribadi dan tentang waktu.
Apakah kebudayaan itu baik atau jahat ?
Kejadian 11: 1 - 9 dan seluruh pasal 10 menunjukkan kepada kita bahwa kebudayaan itu berasal dari Allah yang menyebarkan orang-orang dalam berbagai rumpun suku bangsa; dan setelah berabad-abad kebudayaan itu berkembang. Hari ini Yesus mengutus kita untuk menjadikan murid-Nya dari setiap etnis, segala bangsa, suku - kaum - bahasa, atau berbagai macam kelompok budaya. Pada akhir zaman orang-orang dari setiap latar-belakang budaya yang berbeda akan menyembah di sekeliling Tahta Allah.Kebudayaan adalah wahana atau pembawa dari Injil, dan sama sekali bukan pembatas. Mengapa ? Sebab sekali mereka menerima Kristus, mereka dapat membawa kabar baik yang mereka terima itu kepada anggota kelompoknya dengan cara yang paling mudah dapat dimengerti karena mereka mempunyai bahasa, tata-cara dan adat-istiadat yang sama. Dengan meneladani cara Yesus ber-kontekstualisasi, para misionaris lebih berpeluang untuk dapat mengumpulkan dan mengajar orang-orang setempat.
3. Misionaris yang baik selalu menyesuaikan diri.
Kasih seseorang kepada orang lain berarti mengadakan suatu perubahan besar dalam diri orang itu agar supaya dia dapat berkomunikasi dengan orang yang dikasihinya itu. Hati-hatilah, jangan sampai anda berpikir bahwa anda lebih tahu daripada orang lain. Berita Injil itu tidak pernah berubah, tetapi cara menyajikannya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat, kalau tidak demikian maka tidak akan ada orang yang dapat memahami maksud tujuan anda dan apa yang anda katakan.
- Untuk dapat melihat adanya pertobatan yang benar dan adanya keputusan yang pasti untuk mengikut Kristus dan meninggalkan ilah-ilah palsu, maka harus ada :
- 1. Hubungan antara orang tersebut dengan anda.
- 2. Komunikasi (tanya jawab) dalam berita Injil yang anda sampaikan.
- 3. Pemahaman, "Ya, ini mempunyai arti yang sama bagi saya dan bagi anda."
- 4. Transformasi / perubahan kehidupan petobat baru sebagai tanda pertobatan.
- 5. Kemitraan (bekerja sama) dalam pekerjaan pelayanan dalam pekerjaan Injil.
4. Kunci nomor satu adalah "Pandangan Hidup".
Pandangan hidup seseorang adalah bagaimana orang itu, baik pria maupun wanita, memandang Allah, memandang dirinya sendiri dan memandang kekekalan. Pertobatan dan perubahan harus terjadi sekarang sebagai langkah pertama meninggalkan adat istiadatnya secara bertahap dengan cara menyesuaikan diri dengan Firman Allah. Sebelum anda berbicara kepada orang-orang di mana anda terpanggil untuk melayani, maka anda harus mengambil waktu secukupnya untuk mengkaji dan memahami dengan tepat dan benar bagaimana pandangan hidup mereka. Pandangan hidup mereka mungkin sangat religius di mana dalam setiap percakapan hampir selalu melibatkan Allah atau ilah-ilah, atau mungkin juga sangat bersifat sekuler seperti ateisme-marxist. Dari dasar pandangan hidup semacam inilah terlahir bentuk-bentuk kepercayaan mereka, kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari dan sistem nilai mereka (cara mereka menilai sesuatu), baik ataupun jelek.
5. Paulus menempatkannya dengan benar, kita pun bisa juga.
Dalam 1 Tesalonika 1 dan 2, kita membaca bagaimana orang-orang kafir berbalik dari berhala mereka untuk melayani Allah Yang Benar dan Yang Hidup. Paulus mengatakan bahwa Injil dapat sampai kepada mereka itu tidak sekedar dengan kata-kata saja, tetapi ada faktor-faktor lain, oleh karena itu marilah kita mempelajari 3 hal yang banyak juga berkaitan dalam hal ini:
Dalam tahun 1700an Misionaris dari Moravia bahkan sampai berani memasuki kelompok-kelompok penderita kusta, dan rela menjadi penderita kusta demi untuk memenangkan penderita kusta yang lain; ada yang rela menjadi budak demi untuk memenangkan budak-budak yang lain. Sekarang ini, di Filipina, para misionaris memilih untuk tinggal di antara fakir miskin untuk memenangkan mereka itu bagi Kristus. Dalam Misionaris Sahel, Keith Smith tinggal di gubuk Fulani, memelihara sapi Fulani, berpakaian ala Fulani, berbicara bahasa Fulani dan memenangkan orang Fulani untuk Kristus.